Dari Retailer Hingga Produksi Sendiri

11 Juni 2017 14:58
Nurwahida Wiwi.

MAKASSAR, INIKATA.com – Nurwahida Wiwi (25) perempuan yang terbilang muda ini tengah menggeluti bisnis Fashion.

Debut pertama Wiwi dalam bisnis fashoion berawal dari kesukaan koleksi yang dimilikinya.

“Jadinya pada bulan September 2012 saya ketemu sama online shop first hand (tangan pertama) dari Jakarta, dia jualnya murah namun sayangnya ongkirnya jatuhnya mahal kalau cuman beli 1 , jadinya saya inisiatif buat group jualan via BBM dan menjadi reseller OS tersebut yah hitung-hitung dapat teman buat share ongkos kirim,” ucapnya, kemarin.

Namun hal itu berlanjut terus menerus dan kata Wiwi suatu hal yang tidak ia duga, ternyata produknya laku dipasaran. Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia pun memberanikan diri untuk ke ibu Kota (Jakarta) untuk menemui langsung produsen baju tersebut.

“Banyak yang membeli dan ini berjalan kurang lebih 6 bulan saya menjadi reseller First Hand, Pada bulan April 2013 akhirnya saya temukan distributor dari online shop First Hand saya, segera saya dari Makassar berangkat ke Ibu Kota ketempat produsen pakaian se-Indonesia,” katanya.

Lantas, setelah itu ia menjadi Retail online shop first hand di Makassar. Semakin hari jualan produknya cukup berkembang hingga ia bisa menjual jual kurang lebih dari 500 piecis per bulan.

Ia pun menjualnya melaui group blackberry karena waktu itu di instagram belum begitu booming seperti saat ini.

Hal ini berjalan hingga awal 2014 angka penjualan sempat menurun lantaran ia sedang fokus kerja skripsi.

Hingga pada waktu Juni 2014 saya sudah sarjana dan berniat untuk fokus dan tetap jalankan PILOVCIMZ pilovcimz (Nama olshopnya waktu itu) tapi orang tua lebih mengarahkan Wiwi untuk mencari kerja.

“Saya masih agak keras kepala dan tetap mau jalankan Pilovcimz. Hingga pada bulan Oktober 2014 tiba-tiba saya kena musibah 4 HP blackberry yang masing-masing 1 BB isinya kontak produsen, 2 BB untuk Jualan, dan 1 Buat pribadi semua rusak dan kontaknya hilang karena tergenam air satu botol di dalam tas , lambat saya sadari karena tas saya tidak tembus air,” jelasnya.

Pusing juga, katanya hingga pada akhir Januari 2015 ia kembali mencoba ke Ibu kota untuk mencari kontak produsen dan saat itu juga ia mulai SMS semua yang pernah jadi pelanggan. Namun hasilnya kurang maksimal.

Perputaran sudah tidak selancar bulan-bulan sebelumnya mungkin karena perkembangan online shop first hand di Makassar Rata-Rata sudah mulai menjamur.

“Jadi, saya akhirnya nurut kata orang tua yaitu cari kerja, alhamdulillah belum cukup 1 bulan cari kerja disini sudah dapat. Setelah ±6 bulan selesai training kerja, November 2015 saya kembali stock barang dan berniat melanjutkan OS dan memulai kembali OS, dengan mencari perhatian melalui promoted di via akun publik, alhamdulillah OS cukup berjalan lancar,” paparnya.

Namun OSnya kembali jatuh, karena beberapa bulan kemudian saya tergiur dengan produsen dikota X yang harganya murah tanpa harus beli grosir, foto-foto dan koleksi model bajunya juga banyak, terus sistem dropship (dalam hatinya cukup memudahkan). Jadinya ia mencoba pindah produsen. Ia pun kembali mengeluarkan budget promosi buat promoted.

Waktu awal setelah promosi angka followers dan penjualan meningkat, namun saya perhatikan repeat ordernya kurang dan tak jarang ia terima komplen kualitas bahan jelek , warna tidak sesuai dengan foto.

“Ternyata saya salah memilih produsen, produsen tidak menggunakan REAL pitc, jadi terkait ini jadi bahan evaluasi diri saya, mesti hati-hati dalam mencari produsen, kesalahan saya karena sistem dropship jadi barang yang saya jual langsung dikirim dari produsen ke tangan pelanggan, jadinya saya tidak lihat terlebih dahulu kualitasnya seperti apa,” akunya.

Ia pun kecolongam waktu itu admin yang dia percayakannya salah posting, niatnya membroadcast koleksi baju via line@ malah yang di dibroadcast adalah capturan akun IG produsen tempat ia mengambil baju.

“Jadinya saat itu Mei 2016 – Desember 2016 benar-benar saya stop vakum. Tapi rasanya memang saya rasa tidak bisa tinggalkan OS, setiap kali saya jalan-jalan ke pameran-pameran Fashion di Jakarta dan stalker OS Fashion, rasanya selalu buat saya terinspirasi mau punya brand sendiri dan design produk yang saya inginkan,” ujarnya.

Waktu berlalu akhirnya awal tahun 2017, ia mencoba cari tahu bagaimana cara produksi dan cara menekan biaya produksi. Ia pun mencoba blusukan jalan kesana kemari sampai lintas antar kota diwaktu kosong (libur kerja).

“Dan alhamdulillah pada akhirnya saya ketemu caranya dalam waktu kurang lebih 2 bulan. Awal bulan maret saya 2017 mulai produksi yang dikerjakan di Makassar dan sebagian di Jakarta. Lalu Pemotretan foto produk di salah satu studio foto di Makassar dibulan april, hingga akhirnya new upload pertama pada tanggal 7 Mei 2017. Harapan saya semoga brand “FAMODE”,” tuturnya.

Ia pun berharap kedepan pihaknya bisa melebarkan sayap fashion yang memiliki harga murah namun tak murahan bahannya di seluruh wilayah Indonesia Timur. “Harapan saya agar bisa menguasai pasar dan memenuhi kebutuhan fashion di Wilayah Indonesia Timur utamanya kota Makassar. Kami juga memasarkan itu melalui akun instagram kami @famodeclothing,” pungkasnya. (**)

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments