Persaingan Usaha Penyokong Ekonomi Efisiensi

3 Maret 2017 18:00
diskusi "Industrilisasi dan Persaingan" Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) di Ruang Rapat Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Jumat (03/03/2017).

MAKASSAR, INIKATA.com— Kompetensi usaha bukan penyebab “denindustrial” (Industri tidak berkembang, red) semakin cepat. Akan tetapi, terciptanya persaingan usaha merupakan penyokong ekonomi efisiensi.

Hal itu mencuat dalam diskusi “Industrilisasi dan Persaingan” Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) di Ruang Rapat Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Jumat (3/3/2017).

Ketua KPPU RI, Syarkawi Rauf mengatakan seperti di negara-negara lain, perekonomian Jepang dan Cina mengalami peningkatan ekonomi yang baik.

Hal itu, kata Syarkawi, karena terciptanya persaingan atau kompetensi usaha Industrial sehingga terciptanya persaingan usaha untuk mendorong peningkatan mutu produknya.

“Itu bukti bahwa persaingan usaha akan menciptakan peningkatan perekonomian yang efisien. Bukan malah denindustrial semakin cepat,” katanya.

Menurutnya, jika persaingan atau kompetensi yang bersih diterapkan di Indonesia akan membawa dampak perubahan perekonomian Indonesia yang signifikan.

“Ekonomi kita (Indonesia,red) semakin fluktuasi di posisi “glowth” (berkembang). Dari “Gross National Income”, jika negara lain semakin tumbuh akan tetapi bahwa Indonesia semakin menurun,” tuturnya

“Memperlihatkan bahwa dimana persaingan usaha yang baik tidak terjadi di Indonesia,”lanjutnya.

Saat ini, kata dia, Indonesia terjebak pada Middle Income Trap, yang dimana tidak berada pada level negara maju bahkan cenderung turun ke bawah.

“Walaupun dengan hadirnya pengusaha baru akan sedikit menganggu pengusaha lainnya. Akan tetapi, dengan memberikan peluang pengusaha-pengusaha lain untuk berkompetensi dapat meningkatkan income (pendapatan) bukan malah mempercepat “denindustrial”,” katanya.

Komisioner KPPU RI, Chandra Setiawan mengatakan dalam periode 2014-2015 daya saing Indonesia semakin buruk khususnya di Negara Asean.

Karenanya, kompensi industrial yang baik dapat mempengaruhi pertumbuhan industri dan ekonomi.

“Semakin baik efisiensi perekonomian maka semakin baik kondisi pasar,” tuturnya.

Baca juga: 2017, Pegadaian Targetkan Raih Laba Bersih Rp 2,5 T

Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Taslim Arifin mengatakan secara keseluruhan, jika melihat kondisi sistem saat ini, selain melahirkan Invidualisme dan Pengrusakan Lingkungan, juga akan melahirkan masyarakat konsumenisme (konsumen).

“Sepanjang kita mengakui persaingan itu dapat menumbuhkan perekonomian, maka persaingan tanpa batas dan ganas serta merusak ini harus diperbaiki,”tandasnya ditengah diskusi

Baca juga: Garuda Travel Fair 2017 Target Transaksi Rp 20 M

“Ini harus menjadi tugas KPPU. Selain menjadi pelopor persaingan sehat. Juga harus menindaki penjahat-penjahat industrial yang memonopoli usaha,”jelasnya. (**)

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments