Ini Cara BI Tekan Inflasi Tahun Depan

3 Oktober 2016 22:16

JAKARTA,INIKATA.com – Inflasi timbul karena permintaan masyarakat akan barang dan jasa meningkat dan adanya kenaikan biaya produksi. Di sinilah tugas dan fungsi bank sentral (BI) menekan laju inflasi utamanya di tahun 2017.

Bank Indonesia menyebutkan, hingga Agustus 2016, inflasi secara nasional cukup rendah sebesar 2,79% (yoy), bahkan di bulan tersebut mengalami defelasi sebesar 0,02% (mtm) , lebih rendah dari historis 5 tahun terakhir 0,72% (mtm). Inflasi 2016 diperkirakan akan berada pada batas bawah dari rentang sasaran 4+1%.

Kedepannya, banyak strategi dan regulasi yang disiapkan BI guna menekan laju inflasi. Salah satu diantaranya adalah pengembangan kluster-kluster di setiap daerah/kabupaten.

Noor Yudanto, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter, menuturkan, risiko inflasi 2017 bersumber dari rencana kenaikan Tarif Tenaga Listrik( TTL ) untuk RT sebesar 900 VA.

Selain itu, risiko inflasi pangan bergejolak tetap perlu diwaspadai karena masih rentannya tangangan struktural untuk berkesinambungan produksi dan distribusi pangan.

Menurut Noor, untuk memecahkan masalah tantangan Indonesia atas ancaman inflasi salah satunya tantangan kelembagaan harus diperkuat, karena antara Tim pengendali inflasi pusat dan daerah kurang koordinatif.

” Kami sudah membuat roadmap pengendalian inflasi tinggal akan kita koordinasikan ke provinsi,” ujar Noor disela-sela sesi materi Pengendalian Inflasi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan Program Klaster Pengendalian Inflasi, di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jalan Hayam Wuruk, Senin (3/10/16).

Sementara Winny Purwanti, Deputi Direktur Departemen Pengembangan UMKM menambahkan, solusi terhadap inflasi yang tinggi adalah mendorong peningkatan perkembangan UMKM sebagai salah satu cara pengendalian inflasi dan mengembangkan klaster adalah upaya konkret mendorong perkembangan UMKM.

Tiga strategi pengembangan komoditas seperti komoditi yg dikembangkan adalah komoditas yang mendukung ketahanan pangan, komunitas yang menjadi sumber tekanan inflasi dan komoditas berorientasi ekspor.

Saat ini, menurut Winny, BI telah mengembangkan 1580 kluster meliputi 25 komoditas di 45 kantor wilayah.

” Tapi kita menganjurkan tiap daerah mengembangkan komoditas yang menjadi sumber tekanan inflasi karena tiap daerah juga kadang berbeda jenis komoditas nya, ” beber Winny Purwanti.

Terakhir Budiono Deputi Direktur Departemen Regional dalam materinya juga mengingatkan bahwa perilaku masyarakat yang konsumsi juga harus dikendalikan agar stabil. (***)

 

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments