Kemendag Dukung Target Ekspor Sulsel Meningkat 300%

26 Februari 2017 15:43
Ekspor Sulsel Meningkat 300%. (Foto:int)

MAKASSAR,INIKATA.com – Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mendukung target ekspor Sulawesi Selatan yang kedepan harus mencapai 300% melalui mapping atau pemetaan pasar ekspor/komoditas unggulan daerah ini di pasar dunia.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Arlinda dalam ” Forum Implementasi Pengembangan Pasar Ekspor/Komoditas Unggulan Sulawesi Selatan di Pasar Dunia”, yang berlangsung di Swiss-Belhotel Makassar, Jumat (24/2/2017) lalu.

Forum ini antara lain dihadiri oleh Kementerian Perdagangan RI, anggota DPR RI, Pemprov Sulsel, beberapa bupati dan Wali Kota di Sulsel, Pelindo IV, eksportir, pelaku UMKM, serta 35 atase perdagangan luar negeri.

Dalam sambutannya Arlinda mengatakan, saat ini pihaknya juga sedang memetakan berapa besar kran ekspor yang harus dibuka kembali.

“Tahun lalu, secara nasional ekspor non migas kita memang sedang mengalami penurunan. Tapi kita tidak perlu berkecil hati karena ada beberapa hal yang mengakibatkan penurunan tersebut, seperti harga komoditas yang memang sedang menurun,” katanya.

Menurut dia, pihaknya yakin tahun ini ekspor non migas akan kembali mengalami peningkatan. Kemendag bahkan menargetkan, ekspor non migas di tahun ini harus meningkat sebesar 5,6%.

Arlinda menyebutkan, meski kontribusi Sulsel masih kecil yaitu hanya 1,7% dari total ekspor nasional, namun Pemerintah akan terus mendukung usaha pemerintah daerah dan stakeholder di wilayah ini dalam upaya peningkatan ekspor.

“Tapi, Pemerintah juga mendorong agar tiap daerah melakukan peningkatan nilai tambah ekspor, jangan hanya bahan baku saja yang diekspor tetapi juga harus barang jadi. Selain itu, jangan lupa juga untuk terus melakukan promosi komoditas agar lebih dikenal dunia,” ujarnya.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan selama ini dia sudah cukup berbangga, Sulsel telah menjadi contoh percepatan ekspor khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

“Hal itu akan terus ditingkatkan dengan memperbarui kerja sama perdagangan yang sudah ada selama ini,” kata Syahrul.

Tahun ini tambah dia, pihaknya juga akan fokus pada masalah promosi dalam dan luar negeri, agar ekspor Sulsel terus meningkat.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo IV (Persero) Doso Agung dalam pemaparan materinya mengatakan, selama ini Perseroan dan pemerintah daerah selalu bahu membahu dalam peningkatan ekspor barang, khususnya dari Sulsel.

“Satu tahun yang lalu, tidak ada satu pun pelabuhan di KTI yang berani melakukan ekspor langsung. Tapi, Pelindo IV bersama pemerintah daerah kemudian sama-sama berjuang hingga kini beberapa pelabuhan di wilayah kami (Pelindo IV) telah melakukan ekspor langsung yang dimulai dari Pelabuhan Makassar,” papar Doso Agung.

Bahkan saat ini lanjut dia, beberapa pelabuhan di KTI juga sudah mulai ekspor langsung melalui Pelabuhan Makassar, bekerjasama dengan perusahaan pelayaran asal Hongkong, SITC, yaitu Pelabuhan Bitung dan Jayapura.

Menyusul Pelabuhan Pantoloan di Palu, Sulawesi Tengah dan Pelabuhan Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur. Serta nanti juga dari Pelabuhan Tarakan di Kalimantan Utara dan Pelabuhan Ambon di Maluku.

Menurut Doso Agung, selama ini pihaknya telah mengkaji bahwa sebenarnya permasalahan tidak bisa dilakukan ekspor langsung bukan pada persoalan infrastruktur, tetapi lebih pada persoalan soft struktur atau regulasi yang ada.

“Nah, setelah itu kami ubah bersama-sama, akhirnya kini ekspor langsung sudah tidak menemui banyak kendala lagi,”tambahnyam

Dia menceritakan, awal dilakukan ekspor langsung dari Pelabuhan Makassar, barang yang dikirim ketika itu hanya sebanyak 50 kontainer. Sekarang rerata sudah 500 kontainer per minggu. Ada barang lokal Sulsel, ada juga barang dari pelabuhan lain yang dikirim melalui Makassar.

Selain itu, jika sebelumnya kapal yang membawa barang ke Jayapura selalu pulang dalam keadaan kosong tanpa membawa muatan, sejak pihaknya membuka jalur pengiriman barang langsung ke luar negeri dari Pelabuhan Jayapura, kini kapal yang kembali selalu berisi barang muatan berupa komoditas asli Papua, yaitu Kayu Merbau.

Hanya saja, senada dengan Arlinda, pihaknya juga akan terus mendorong pengusaha baik di Sulsel maupun di daerah lainnya di KTI, agar kedepan tidak lagi mengirim barang dalam bentuk bahan baku, tetapi harus sudah berbentuk barang jadi agar ada nilai tambah dari ekspor yang dilakukan. (***)

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments