Hidroponik, Solusi Krisis Pangan di Indonesia

22 Januari 2017 17:54
Anggota Komunitas Maros Hydro Farm, Hamzah menunjukkan memanen cabai di kebun miliknya di Kelurahan Alliritengae, Kecamatan Turikale, Maros. Ia bersama beberapa komunitasnya sudah mampu menunjukkan keberhasilan mereka dalam konsep pertanian Hidroponik. (foto:ist)

MAROS,INIKATA.com – Beberapa waktu lalu, beberapa wilayah di Indonesia termasuk Sulawesi Selatan, harga cabai begitu “pedas” di pasaran. Bahkan, angka tertingginya mencapai Rp120 ribu per kilogramnya. Faktor yang sangat mempengaruhi harga, tidak lain akibat kurangnya pasokan dan tingginya permintaan.

Kekurangan stok cabai di pasaran, salah satunya disebabkan oleh curah hujan yang sangat kontra produktif dengan tanaman cabai. Ratusan ribu hektar tanaman cabai dipanen lebih cepat dan adapula yang gagal panen, hingga membuat petani cabai merugi ratusan juta rupiah. Belum lagi, ulah spekulan yang menampung ratusan ton cabai, menahannya hingga harga cabai kian meroket.

Ironisnya, harga cabai yang “pedas” sama sekali tidak dinikmati oleh petani cabai. Di Kecamatan Tanralili dan Marusu misalnya, tiap tahun di musim hujan, mereka hanya bisa melihat puluhan hektar ladang cabai mereka rusak diserang hama, hingga tidak ada yang bisa mereka jual. Rugi materi, waktu dan tenaga, tak pelak merundung mereka.

Realitas ini berbading terbalik dengan hadirnya sebuah komunitas petani Hidroponik di Maros yang digagas oleh Anggota DPRD Provinsi Sulsel, Wawan Mattaliu. Menamakan dirinya Maros Hydro Farm, beberapa warga di Kecamatan Turikale memanfaatkan lahan kosong sempit mereka menjadi lahan yang berdaya guna.

“Awalnya, bermula dari hobi saja. Kami mencoba menerapkan sistem hidroponik ini ke teman-teman yang punya sedikit lahan kosong di perkotaan. Tapi kami melihat, peluangnya sangat besar, sehingga kami terus melakukan pengembangan,” kata Wawan saat ditemui, Minggu (22/1/2016).

Menurutnya, bercocok tanam Hidroponik, jauh lebih efektif dan efisien ketimbang bercocok tanam konvensional. Selain lebutuhan lahan, pola pemeliharaannya sangat sederhana. Wawan mengaku, sistem ini ia lihat langsung dari pengelolaan industri pangan di Bogor Jawa Barat oleh salah satu perusahaan raksasa. “Kami hanya memodifikasinya hingga bisa dipraktikkan oleh kita di sini,” ujarnya.

Terbukti, setelah melakukan percobaan beberapa kali, salah seorang anggota komunitas ini mampu memperlihatkan hasil yang luar biasa. Hamzah misalnya, dari luas lahan yang hanya 80 meter persegi dia mampu menanam pohon cabe hingga 800 pohon. Warga Pasar sentral Kelurahan Alliritengae, Kecamatan Turikale ini, setiap pekannya mampu memanen cabai merah hingga 15 kilogram.

“Interval waktu dari masa tanam itu sekitar tiga bulan, baru bisa dipanen perdana. Selanjutnya, setiap pekan kita bisa panen sebanyak 15 kilogram, khusus cabai merahnya saja, selama delapan bulan baru kita ganti pohonnya,” terangnya.

Hamzah menyebut, sistem tanam hidroponik sangat tergantung pada sirkulasi air. Ia tidak akan bertahan tanpa adanya proses sirkulasi yang sesuai takarannya serta nutrisi yang dibuat secara khusus tanpa ada bahan kimia. “Nutrisinya ini dibuat khusus oleh mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Maros,” paparnya.

Selain Hamzah, warga jalan bambu runcing, Zulkarnain juga sudah berhasil mengembangkan pola tanam hidroponik dengan tanaman utama selada. Ia sengaja memilih tanaman ini karena terbilang langka dan hanya bisa tumbuh di wilayah pegunungan seperti di Malino. Dengan sistem hidroponik, tanaman ini bisa tumbuh subur dan bahkan sudah dipanen beberapa kali olehnya.

“Saya awalnya juga hanya mencoba-coba untuk membuktikan kalau pola ini bisa diterapkan untuk semua jenis tanaman. Ternyata berhasil untuk tanaman selada yang hanya bisa tumbuh di wilayah pegunungan. Meski hasilnya belum seberapa, tapi saya sudah merasa puas dan tentunya kami masih kembangkan,” tuturnya.

Soal keuntungan, Zul mengaku telah mampu mendapatkan penghasilan tambahan hingga empat juta perbulannya. Selada yang ia tanam dipasarkan langsung ke restoran cepat saji di Makassar. “Kami sudah punya pangsa pasar tersendiri, tapi sayangnya memang belum mampu kita penuhi,” lanjutnya.

Saat ini, komunitas Maros Hydro Farm masih terus melakukan percobaan. Kedepannya, mereka berencana untuk menanam strowberry dengan pola tanam hidroponik. Selain itu, mereka akan juga berencana membuat sebuah tempat wisata khusus hidroponik di kota Maros. Namun, buat mereka, konsep pola tanam yang diusung ini bertujuan agar Indonesia dapat keluar dari krisis pangan dengan swasembada, minimal untuk di Maros terlebih dulu.

Sistem tanam hidroponik ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Filusuf abad ke16 asal Inggris, Francis Bacon bahkan sudah pernah menulis tentang hal itu lalu diteliti oleh banyak peneliti hingga saat ini. Model tanam hidroponik pun, polanya sangat beragam tergantung kebutuhan tanaman yang diterapkan oleh masing-masing pelaksananya.

Ketgam : Anggota Komunitas Maros Hydro Farm, Hamzah menunjukkan memanen cabai di kebun miliknya di Kelurahan Alliritengae, Kecamatan Turikale, Maros. Ia bersama beberapa komunitasnya sudah mampu menunjukkan keberhasilan mereka dalam konsep pertanian Hidroponik. (***)

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments