Suku Bunga AS Tinggi, Investasi di Indonesia Tetap Oke

2 Januari 2017 13:22
Kantor OJK. (Foto: JPNN)

JAKARTA – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menilai, animo terhadap produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berlanjut tahun ini.

Sebab, ada dana repatriasi Rp 143 triliun yang membutuhkan instrumen investasi yang menguntungkan.

” Terbuka kemungkinan ke pasar modal dalam surat berharga negara, kontrak pengelolaan dana (KPD), dana investasi real estate, dan RDPT,” terangnya.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Sesuai Ekspektasi

OJK melakukan relaksasi regulasi KPD berupa penurunan nilai investasi bagi setiap pemodal. Yakni, dari Rp 10 miliar menjadi Rp 5 miliar.

OJK juga menghapus kewajiban perusahaan sasaran saat pencatatan RDPT.

OJK akan bekerja sama dengan direktorat jenderal pajak untuk memperoleh daftar wajib pajak (WP) yang melakukan repatriasi berdasar tax amnesty.

Selain itu, juga berkoordinasi dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Bank Indonesia (BI) untuk mengawasi dana repatriasi, khususnya selama holding period tiga tahun.

Selain dari peserta amnesti pajak, Nurhaida meyakini bahwa investor asing masih melirik Indonesia sebagai tujuan investasi.

Meski rencana kenaikan suku bunga acuan di AS menjadi tantangan, capital outflow yang sempat terjadi pada pertengahan Desember sekadar menjadi penyesuaian portofolio, menyusul penguatan nilai tukar USD.

Menurut Nurhaida, setinggi-tingginya suku bunga AS yang memengaruhi imbal hasil investasi pada 2017, keuntungan berinvestasi di Indonesia tetap lebih tinggi.

”Investor kan mencari return optimal. Jadi, bisa saja mereka mencoba di satu tempat, tapi membandingkan berapa besar peningkatannya dengan Indonesia yang return-nya masih cukup tinggi,” jelasnya.

Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan menyebutkan, pihaknya berupaya memaksimalkan investor agar aktif bertransaksi.

Dengan demikian, pasar saham bisa lebih likuid. Hal itu sejalan dengan upaya menambah jumlah investor baru.

”Ada 530 ribu investor, tapi hanya ada sekitar 180 ribu yang aktif. Sepertiga saja yang aktif. Dua pertiga lainnya akan coba kami aktifkan bertransaksi,” tuturnya pada Jumat (30/12).

Baca Juga: Investor Domestik Bertambah, Asing Menyusut

Dua pertiga investor tersebut memiliki saham dan dana yang menganggur. Pergerakan harga saham tidak disikapi dan rekening dana nasabah hanya mengendap di perusahaan sekuritas.

”Investor ini sama sekali tidak aktif, baik bulanan maupun tahunan,” ucapnya.

Untuk membangunkan saham, BEI bakal mengoptimalkan kerja sama dengan pihak sekuritas untuk melakukan pelatihan agar hasil investasi lebih maksimal.

Miliki Segera Hunian Asri dilokasi Strategis, Griya Rindu Alam

Comments